Selasa, 17 Juli 2018

Deru Lalu

Deru Lalu
Kupungut putung kenangan bersama tatunya
Berusaha pedulikan isak yang menderu setiap malam
Belati tajam menancap dalam rongga rindu yang terbelenggu
Melihat kelaluan, memandangginya namun enggan beranjak kemana
Angin memaksaku kembali lewat desisnya
Hujan selalu mampu membuat kenangan menggenang
Lalu malam menindihkan lamunan akan rindu yang tertabur pada langitnya
Bagaimana bisa aku lari lalu mencoba pergi
Sedang yang tak ingin kuingat selalu teringat
Hanya waktu yang setia membantuku menyamarkan keadaan
Tetap saja aku bosan jika tak mengingatnya
Sejatinya yang harus kulalukan hanyalah menyimpan kenanganya
Membiarkan tetap ada tanpa menghapus satupun kisahnya

Kenang Rindu

.
Kita pernah satu meja dikedai itu
Pekat kopi hitamku menemani secangkir cappucino kesukaanmu

Kau kapan kembali?
Perasaan ini tak terkendali

Merupa asa, muncul tanya
Lantas, siapa sebenarnya yang berhak dijebak rindu?
AKU kah? Manusia dengan seribu dalih yang sudah terlalu banyak memperanak kata
Mempertegas kerinduan pada senja dibalut awan kelabu
Atau biasa disebut dengan KAMU

Mana?
Mana kupandai menyalahkan
Pandaiku hanya menikmatinya
Biar saja lenyap dipadamkan lelap

Dear Entah Dia Entah Siapa

Dear entah dia, entah siapa~

Setelah dengan mu aku tak ingin mengulang hal-hal yang sempat gagal dimasa lalu
Setelah denganmu pula aku tak ingin bergurau dengan waktu
Semoga kamu mampu membalas mengajarku harga dari kepercayaan
Serta mampu meyakinkanku bahwa aku wanitamu
Hingga akhirnya
Aku lega jika dituntut menggambarkan tentang sebuah masa depan yang tak lain adalah bersamamu
(Wonosobo,21/06/18)