Jumat, 01 Februari 2019

Tuan

Dini hari...
Dengung...
Senyum Tuan sudah meracuni tehku
Serupa nikmat dan rindu
Kupilih diisi dengan diam
Begitulah kesederhanaannya kira-kira

Februari tampakan kuncupnya
Tuan tau? Aku adalah pendiam
Namun Tuan, kali ini beda
Beda Tuan...
Aku paham tak paham, yang aku tahu hanyalah beda, tak lain berbeda
Mengutarakan pun lebih kusuka lewat puisi
Hehe...
Diatas kertas saja keberanianku ternyata...
Penaku Tuan, akhir ini gemar mempuisikanmu..
Kata-katamu...
Rupamu mungkin..
Bahkan nafasmu...
Maaf jika puisiku nampak macam pidato
Tuan, pada intinya kali ini berbeda
Aku malu pada "beda"
Berkenankah Tuan menjadi sumber "beda" itu?

Aku pun pernah mengenyam ajaran
Maka dari itu kuutarakan sesuatu yang sudah jelas bukan hanya hak ku
Seluruhnya kembali pada Tuan...
Tuan berhak mengacuhkan
Tuan terpelajar...
Semoga tak kesulitan menerjemahkan
Maafkan segala lancangku Tuan...

Wonosobo, 07:59 Jumat 1 Februari 2019

Selasa, 23 Oktober 2018

Terlatih Dipecundangi

Sekali lagi..
Pecundang itu pergi membawa hati
Dengan salah manusia yang seolah termiliki

Adakah keranggasan yang harus kubenci?
Haruskah ketandasan hati merasa tersakiti?
Ini rezeki, tugasku menikmati

Kunanti pergimu dengan nyenyak
Kupersilahkan beranjak tanpa memberontak
Tak perlu dengan permisi
Kumuak dengan pembantaian hati berkedok janji legal basi

Kepatahan-kepatahanku tak parah
Selagi kertas dan pena masih melimpah
Selamatku terselamatkan
Selagi kertas dan pena masih menjadi penengah
Aku punya paripurna ladang pelarian

Sebab via sajak
Kuberlari ditengah deret imajinasi kata
Menuntaskan rongga sepi, berhalusinasi dengan puisi
Meracik hati yang jatuh, melebur luka yang rapuh
Dan memperjudikan sajak, mencipta bahagia mutlak

Jumat, 12 Oktober 2018

22.00-03.00

Denting waktu..
Aku merasa debar menunggu kabar
Hingga tercium aroma pesan nampak pada papan digitalku

Trimakasih dariku..
Untuk satu nama yang becus menemaniku
Membantuku melawan sepi dimalam menjelang pagi

Ada yang begitu istimewa
Hingga aku harus mencengkam tanya
Menjabarkan kata dan menyerakan tema
Agar deret pesanku dan dia berjalan hingga pagi menjelang

Ada yang begitu mencandu
Diam-diam kumulai menampung rindu

Celakanya..
Saat ini tawaku berubah menjadi rasa

Aku begitu takut bila jatuhku hanya sendiri
Aku begitu takut jika kuberjalan seorangan
Aku tak mau menemukan peristilahan bertepuk sebelah tangan

Harapku sederhana..
Semoga dia selalu menggelar kabar pada pukul 22.00-03.00

Minggu, 09 September 2018

Peran Lama

Suatu waktu..
Aku dan ramai lampu kota menjadi satu
Menyaksikan rindu-rindu berlalu-lalang
Meskipun itu tentang kehilangan
Yang menjelma kenangan
Merupa ketidakpastian
Kemudian berakhir sebagai pelarian

Apa ini?
Sesak sekali untuk kuhirup
Masikah tentang harap?
Yang punah ketika lelap?
Haha.. tetap saja tak dianggap

Aku muak ya Tuhan..
Ketika tengah malam datang
Diriku harus melewati seonggok rindu
Lalu memulangkan sendu yang teramat semu
Menjadi haru yang menggebu-gebu
Seperti manusia yang dirusak masa lalu

Senin, 27 Agustus 2018

Via Kopi



Udara dingin merenggut sela jariku
Kuhirup kepul asap kopiku
Yang kutau hanyalah nikmat
Walaupun pahit, pekat dan berampas
Via kopi ini..
Aku meneguk sebuah kekasatan
Yang setiap pahitnya mampu menjelma keromantisan
Setiap pekatnya terabadi sebagai pelupa sepi
Kemudian ampasnya mengarsip episode bahagia
Via kopi ini.. 
Aku menggelar kabar hati
Aku melamunkan sesuatu yang teramat remang
Sekedar ingin memastikan..
Aku mampu temukan kesan
Saat bercumbu dengan bibir cangkir ternyaman

Selasa, 17 Juli 2018

Deru Lalu

Deru Lalu
Kupungut putung kenangan bersama tatunya
Berusaha pedulikan isak yang menderu setiap malam
Belati tajam menancap dalam rongga rindu yang terbelenggu
Melihat kelaluan, memandangginya namun enggan beranjak kemana
Angin memaksaku kembali lewat desisnya
Hujan selalu mampu membuat kenangan menggenang
Lalu malam menindihkan lamunan akan rindu yang tertabur pada langitnya
Bagaimana bisa aku lari lalu mencoba pergi
Sedang yang tak ingin kuingat selalu teringat
Hanya waktu yang setia membantuku menyamarkan keadaan
Tetap saja aku bosan jika tak mengingatnya
Sejatinya yang harus kulalukan hanyalah menyimpan kenanganya
Membiarkan tetap ada tanpa menghapus satupun kisahnya

Kenang Rindu

.
Kita pernah satu meja dikedai itu
Pekat kopi hitamku menemani secangkir cappucino kesukaanmu

Kau kapan kembali?
Perasaan ini tak terkendali

Merupa asa, muncul tanya
Lantas, siapa sebenarnya yang berhak dijebak rindu?
AKU kah? Manusia dengan seribu dalih yang sudah terlalu banyak memperanak kata
Mempertegas kerinduan pada senja dibalut awan kelabu
Atau biasa disebut dengan KAMU

Mana?
Mana kupandai menyalahkan
Pandaiku hanya menikmatinya
Biar saja lenyap dipadamkan lelap